Industri jamu nasional mengeluhkan regulasi impor jamu yang dinilai masih longgar. Bila terus terjadi, diprediksi ini bakal membonsai omzet pebisnis jamu lokal.
Ketua II
Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Putri Kusumawardhani mencontohkan,
salah satu kekurangan adalah perhatian peredaran jamu impor. Ini
ditandai dengan menjamurnya penjualan jamu impor lewat multi level
marketing (MLM) yang tak terkendali.
Dengan lemahnya
pengawasan MLM ini, dipastikan akan menggerus industri jamu kecil yang
memiliki keterbatasan modal dan jaringan. "Industri jamu skala kecil
yang akan menjadi korban pertama karena paling rawan gulung tikar," kata
dia.
Pada tahun ini
sendiri, omzet jamu nasional diprediksi mencapai Rp 13 triliun. Jumlah
ini naik 18% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 11 triliun.
Sementara omzet
jamu impor legal pada tahun ini diprekirakan akan mencapai Rp 7 triliun.
Jumlah ini belum ditambah dengan peredaran jamu ilegal yang menggerus
omzet jamu nasional. "Sebenarnya pasar kita berpotensi mencapai Rp 25
triliun," ungkap dia.
Di saat impor
jamu seakan sulit untuk dibendung, hal yang sebaliknya justru menimpa
ekspor jamu asal Indonesia. Produk jamu asal Indonesia justru mengalami
kesulitan untuk masuk ke pasar ekspor karena beberapa negara mengklaim
jamu Indonesia adalah produk jamu kimia. Pebisnis jamu berharap adanya
campur tangan dari pemerintah untuk menjelaskan hal ini, terutama dari
Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BP POM).
Selain itu, kata
Putri ada beberapa regulasi yang ia nilai menghambat industri jamu
tanah air. Misalnya bakal dimasukkannya jamu dalam rancangan beleid
farmasi (RUU farmasi). Padahal, jamu berbeda dengan produk farmasi,
terutama dari sisi pengolahan produknya. la bilang, bila dipaksakan
bakal menghambat bisnis jamu lokal.
Menteri
Perindustrian MS Hidayat mengakui adanya beberapa masalah di industri
jamu nasional tersebut. Dan Hidayat berjanji untuk mendukung industri
jamu dengan mendorong pembuatan regulasi yang mendukung industri
tersebut. "Mungkin pembuatan regulasi di Kementerian tertentu jadi
rumit, kami bisa membantu menyederhanakannya," katanya.
Hidayat sendiri
mengatakan sebaiknya industri jamu dalam negeri lebih fokus di pasar
domestik saja. Pasalnya, potensi pasarnya masih cukup besar. "Pasar jamu
domestik kita saja saat ini masih saja kemasukan produk impor,"
lanjutnya.
No hay comentarios.:
Publicar un comentario